Thursday, December 23, 2021

Tahun Baru 2019

 


Sejak Aji mutasi ke Bali, ibu mondar-mandir Jakarta- Denpasar. Tambahan masih ada bisnis trip ke Malang sebulan sekali, jadi biasanya dari Malang langsung bertolak ke Denpasar. 

Supaya hemat, Aji hanya pulang 2 minggu sekali, jadi jumat malam berangkat ke Jakarta, Minggu sore balik ke Denpasar. Di liburan sekolah semester ganjil kali ini  2019, akhir tahun pula, Aji tidak bisa pulang ke Jakarta. Jadi, anak-anaklah yang berangkat ke Denpasar. 

Liburan panjang biar sempat menengok niang juga, setelah kakiang meninggal , niang tinggal sendirian dan hanya ditemani ART yang tidak menginap. Sempat pula tante Yayuk menemani kalau malam hari , tapi setelah setahun kakiang meninggal, tante Yayuk tidak lagi bisa menemani. 




Umpel-umpelan di kos-kosan aji kwkkwkw. Tidur berlima dengan 1 bed ukuran 140x200 ,ditambah dengan kasur tiup buat 2 anak lainnya. SERU !  


eit numpang lewat lah! Iklan kacamata apa pewarna rambut silver? kwkkwkw. 




Thursday, November 05, 2020

Lesson from Covid 19 (1)

 

Sejak covid 19 menyebar di Indonesia, tanggal 29 Maret 2020, selepas mengajar di klien , beberapa teman menencourage segera terbang pulang ke Bali. Untung saya tidak keras kepala seperti biasanya hahah. Hari itu hari terakhir bandara Ngurah Rai buka. Setibanya di airport Denpasar itu, petugas bandara menjaga ketat suhu tubuh para penumpang yang datang. Keadaan begitu tegang dan mencekam. Keesokan harinya resmi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan. Bandara ditutup . 

Oh well. 

Senin dimulai dengan kekagetan betapa anak-anak diliburkan , dan diberlakukan belajar dari rumah. Para guru tidak serta merta canggih dengan adaptasi pengajaran berbasis daring. Terseok-seok juga mulai dengan wa group, lalu beralih ke zoom dan akhirnya terintegrasi dengan Google Classroom. 

Pada hari berikutnya, kami menengok Niang di Singaraja. Pada hari itu kami sudah mulai cemas dengan bagaimana bisa mensupport beliau jika beliau tetap bersikeras tinggal sendirian, jauh dari kami di Denpasar. Kami berupaya membujuk, untuk mengajak ke Denpasar. Beliau mengatakan beliau lebih takut kalau tertular anak-anak kalau tinggal di Denpasar. 

Ya sudah. Apa mau dikata. Namanya orang tua, punya pola pikir yang berbeda sesuai dengan kebiasaan-kebiasaannya. Kami pulang kembali ke Denpasar pada hari yang sama. Selang sehari, ternyata beliau malah tambah khawatir kesulitan mencari bahan makanan dengan diberlakukannya PSBB. Akhirnya beliau menelepon, minta dijemput untuk dibawa ke Denpasar. 

Cus, boyongan lah hari itu. Semua barangnya dia bawa : baju, ember (untuk pipis katanya kalau malam keburu ingin pipis dan tidak bisa ke kemar mandi), sabun-shampoo, makanan dan surat-surat berharga, obat-obatan. Macam pindah rumahlah. Kocak juga kalau ingat itu. 

Wajah cemasnya masih terbayang. Entah apa saja yang dipikirkannya saat itu. Bahkan cucu-cucunya ingin menyambutnya dan bersalaman pun dia menolak, katanya 'jaga jarak'. . Ya, ya,ya. Saya pun tak menyangka sebegitu kuatirnya ia akan covid ini. barangkali terpengaruh dengan berita-berita yang meyeramkan yang dibahas di sosmed. 

Hari-hari pertama di rumah, ia banyak diam dengan wajah tegang. Saya tidak banyak bertanya, tidak juga lebay. Sebagai mantu, saya menempatkan diri agar ia mendapatkan masa transisi yang mulus. Kami juga belum tahu seberapa lama ia akan tinggal dan juga seberapa cepat kita bisa saling menyesuaikan diri. 

Yang jelas, untuk makanan beliau saya bantu menyajikan. Nasi pun saya ambilkan, beserta lauk dan bahakan air minum. Beliau tidak banyak cakap dan banyak gerak. Terbatas dari kamar, ke kamar mandi lalu di kursi tamu untuk duduk dan terkantuk-kantuk tertidur. Beliau mengeluh merasa lemas, capek , kesemutan tangannya bekas stroke beberapa tahun lalu. 

Jika tidak diambilkan, beliau tidak mau makan. Lalu berulang-ulang mengatakan mau tes rapid untuk memastikan apakah ia terkena covid atau tidak. Saat itu rapid tes masih jarang dan bahkan dokter atau lab yang menerima pemerikasaan pun sangat ketakutan dan cemas. 

Saya masih ingat juga betapa suatu hari  beliau mengatakan tidak bisa ke belakang 2 hari  dan perlu obat cuci perut. Lalu setelah dibelikan, obat itu ia minum setengah botol, dan berakibat malah BAB terlalu cair dan bahkan tidak tertahankan dan tercecer dalam langkahnya ke kamar mandi. 

Disitulah kehebatan anak lelakinya, yaitu suami sayah tercinta. Ia tidak menyalahkan ibunya, namun dengan ihklas membersihkan semua kotoran dengan penuh penerimaan. Tanpa segan turun langsung menangani situasi tanpa saya harus ngotot. 

Jika ada acara persembahyangan di griya pun, beliau menolak ikut. Alasannya nanti tertular dari para umat yang datang untuk sembahyang. Ya sudah, bebas ajalah. Beribadah itu tidak bisa dipaksakan. 

Di rumah pun banyak sekali lingkaran kekuatiran beliau. Mulai dari mempertanyakan, buat siapa maturan, siapa yang dipuja dan dituju jika sembahyang. Kenapa duduk di depan area akurarium untuk sembahyang, siapa yang tunjukkan untuk duduk di sana. oh well. Saya dan suami menanggapinya dengan jawaban sederhana saja , ya berdoa kepada Tuhan YME.  Duduk di situ karena nyaman saja. Tempat lain juga boleh kok. 

Memang tak mudah bagi beliau beradaptasi. Makanan yang dimasak si teteh pun seringkali tidak berkenan : tidak suka pedaslah, kalau makan pisang goreng jadi jerawatan lah, dimasakkan masakan dikomentari tidak suka karena beliau orang kampung lah tidak pernah makan yang aneh-aneh lah. Pokoknya aneka rupa. Si teteh sempat baper pula karena semua yang dimasak seolah tidak ada yang benar. 

Barangkali beliau juga kesal dalam hatinya lihat pola tidur mantunya, yang seringnya bergadang sampai pagi dan baru bangun siang jam 9.  Sementara anaknya bangun pagi dan mengurus maturan , mantunya masih tidur itu... sesuatu bingit yaaa. 

Awal-awal tinggal bersama kami, beliau  tidak mau naik ke lantai atas karena merasa sudah tua dan tidak kuat naik tangga, itu sesuatu sih. Padahal usiaya 74 tahun dan masih kuat berjalan. Somehow, whatever you think about yourself, you are right. 

Saya menuliskan pengalaman ini agar menjadikan catatan, bahwa apapun butuh proses adaptasi. Seringnya kita sendiri yang membuat keadaan menjadi sangat sulit untuk diterima karena ada rasa asing, tidak tahu apa yang dapat diharapkan, dan rasa tidak nyaman luar biasa. Perubahan adalah sesuatu yang menakutkan, sampai akhirnya kira perlahan menyadari bahwa fase-fase yang harus dilalui begitu panjang sebelum tiba di kondisi penerimaan. 

Barangkali saat kita menjadi lansia pun akan dipenuhi dengan kekhawtiran dalam bentuk prilaku yang berbeda, sehingga sejak sekarang belajar dari mengamati agar memiliki kecakapan hidup yang lebih baik. 












Friday, May 15, 2020

Not just a woman - You

Lebih gampang memilih predikat, " saya cuma seorang perempuan", lalu menjual iba untuk ketidakberdayaan.

Lebih mudah diam, untuk tidak bereaksi atas kata-kata yang melukai, lalu mencari sudut gelap untuk membasuh luka dengan air mata.

Lebih tepat disebut perempuan jika terisak atau mengamuk berteriak-teriak saat semua tekanan yang dirasakan sudah tidak bisa ditoleransi .

tokh perempuan.
lemah,
bisanya menangis,
out of control.

yeah.

kita sendiri para perempuan yang mengambil strategi branding itu.
kita jual daya pikat kelemahan seolah segel sertifikasi untuk segala ketidakmampuan.

Lupa berkaca bahwa diri yang kita lihat memang tak sempurna.
Kehilangan kemanusiaan terhadap gadis kecil di dalam diri kita.
Meruntuhkan langit harapan sendiri karena cerita hidup tak serupa dongeng peri dari negeri mimpi.

maka alam pun disebut 'mother nature'.
sebagaimana kita pun ditunjukkan untuk mendapat pengajaran dari alam.
bersikap menaungi semua jenis bentuk kehidupan : baik jahat atau baik, entah mudah atau sulit.
kita pun diperkenankan meledakkan kemarahan jika memang itu membuat kestabilan terjaga.
menghancurkan, agar terbentuk kembali kehidupan yang baru.

romansa masa lalu adalah catatan sejarah,
namun tak akan kembali lagi, apapun daya yang dikerahkan.
pengulangan kejadian, lagi dan lagi...

malam pun berganti pagi,
musim dingin akan beralih musim panas.
alam mengajarkan kita menjadi perempuan : menerima dan berproses.









Thursday, February 08, 2018

Kala Hati berjelaga


Kala hati berjelaga,
apa saja yang dikatakan orang terdengar penuh dusta.
Semakin banyak kita bertanya,
yang ditemukan hanyalah rasa murka.


Kala hati berjelaga,
dunia seakan rumah tanpa jendela
langit-langit seakan tak akan terbuka
berjalan, berlari tak mengarah seolah sudah buta


Kala hati berjelaga,
mendatangkan tak lain air mata
penjelasan apa pun seolah tak ada guna
perdebatan ego tiada akan pernah sirna


Kala hati berjelaga,
saatnya rehat dan berkaca
menerima amukan rasa
karena semata-mata semua fana


Kala hati berjelaga,
mohonkan saja ampunan
agar semua dikembalikan
hanya kepada Sang Empunya


Kala hati berjelaga,
adalah sisa ruang tempat percaya
bahwa hidup, harta, cinta
niscaya ada untuk kemudian kembali tiada


Kala hati berjelaga
adalah waktu berjaga
bukan pemeran membela raga
tapi mengambil jarak dengan jiwa

Hasil gambar untuk berjelaga


 

Right or wrong : they are my brothers

Kalau benua Atlantis yang konon tenggelam saja bisa ditemukan, apalagi hubungan darah, hubungan adik-kakak.


Tanpa ahli geologis, tanpa kompas, saya menemukan lagi kakak-kakak saya. Lho, memang selama ini mereka dimana? Ada, secara fisik, tapi mereka tidak meng-kakak-kan diri kepada saya selama belasan tahun.

Sejak saya dan suami (waktu itu masih calon) mengajukan proposal untuk menikah, kakak tua menyatakan diri jadi pihak oposisi. Alasan sederhana, pemilihan pasangan hidup perlu memenuhi kriteria penyamaan. Kalau berbeda, coret.

Kakak tengah lebih seru lagi, menggunakan inflitrasi bahwa jika tidak menuruti berarti ada konsekuensi hukuman dari Sang Illahi. Masuk neraka. Atau alasan drama, " Kau bukan adikku lagi".

Puluhan tahun berlalu. Tiap Lebaran, kami datang berkunjung kepada ortu dengan jadwal piket yang berbeda.  Pun kalau pas selisipan, mereka lah yang bergegas menghindari. Yah, sudahlah.

Namun para keponakan saya, anak-anak kakak saya menjadi penghubung ikatan kami kembali. Dalam suatu kondisi, akhirnya kami dipertemukan kembali. Tak lama setelah kejadian itu, ibunda kami meninggal dunia, sehingga mendekatkan kami semua.

Tahun berganti, keponakan-keponakan dari kakak besar semakin mandiri.  Sepasang ayah-bunda yang penuh kasih, merasa ada rasa sedih karena kehilangan kendali. Fase kehidupan selanjutnya tetap penuh tantangan.

Kakak tengah usahanya semakin berkembang, yah meski barangkali kadang ia terkena tipu daya rekanan. Asset bertambah, tantangan keiklasan berpacu dengan keterikatan. Kenyamanan diri dimaknai dengan penerimaan khalayak ramai, yang dulu cenderung abai.

Barangkali saya hanya pengantar perjalanan mereka sahaja, sebagai para pemimpin keluarga. Segala keputusan saya memang cenderung melontarkan saya kepada orbit tersendiri, tanpa bayang-bayang aturan keluarga.

They might have taken the right or wrong decisions. God knows.
Benar atau salah, tidak di posisi saya menghakimi.












Tuesday, August 29, 2017

Ujian Nasional Kehidupan

Semakin bertambah umur, hidup ini makin lucu rasanya. Makin banyak jenis orang unik yang saya temui. Makin banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Makin tidak jelas kenapa kejadian A berakibat Z, bukan B.

Kalau memang hidup itu penuh ujian, kenapa sebelum manusia dilahirkan tidak diberi bimbingan belajar dulu oleh Tuhan? Supaya bisa naik kelas, zaman kita sekolah dulu harus rajin belajar dan mengerjakan PR, nilai harus bagus. Hidup itu banyak sekali yang diujikan tanpa adanya bimbingan. Seringkali, ujian diulang-ulang dengan soal yang sangat mirip, namun pengujinya berbeda-beda.

Konon, jika ujiannya datang lagi berarti mata pelajaran tersebut masih dalam status remedial. Ha-ha-ha. Kelihatannya untuk beberapa kompetensi hidup saya memang under-dog. Jeblog.

Waktu usia kanak-kanak ujian terberat saya adalah untuk menjalani lakon anak yang pesakitan. Kena angin, asma. Kecapekan, asma. Cium-cium kucing, asma. Apa juga yang dimakan demi peningkatan daya tahan tubuh, tetap berujung a-s-m-a.

Waktu remaja, ujian terberat adalah menerima perasaan jatuh cinta. Astagah. Mati-matian saya jatuh cinta kepada para pria yang kenal saya pun tidak. Pun kenal, biasanya jatuh cintanya kepada sahabat saya sendiri. Sungguh tragis.

Waktu menginjak dewasa muda, perjuangan terberat adalah menjadi mandiri. Dididik dari kecil untuk bisa memutuskan untuk diri sendiri, mencoba hal baru, tegar dan tak mudah mengeluh. Saya pikir saat sudah memiliki kocek sendiri, kemerdekaan ada di tangan sendiri. Ternyata, ibunda tak sudi berbagi kendali, meski dengan anaknya sendiri. Ironis. Saat mau mandiri, malah dianggap tak tahu diri. Ya, jarang pulang ke rumah, tidak minta nasehat ortu, apalagi minta uang jajan.

Perlu bab tersendiri untuk menceritakan ujian dalam kehidupan pernikahan. Heu-heu. Anggap saja seperti menulis kamus atau ensiklopedia -- bahasannya tumpang tindih kategorinya.

Tahun ini, 2020 setelah blog ini hibernasi bertahun-tahun, saya memutuskan untuk mulai nulis kembali. Bukan semata-mata karena tidak bisa mengantuk sampai pukul 3 pagi, tapi rasanya sayang kalau blog yang sudah begitu banyak catatan sejarah kehidupan terbengkalai .

Pandemi Covid19 ini adalah juga ujian nasional kehidupan. Semua orang dipaksa belajar ekstra. Membolak-balikkan priotitas dan pola pikir.  Yang biasanya kerja habis-habisan, sekarang malah habis pekerjaannya se-perusahaan dan se-penghasilannya. Yang biasa keluyuran, dipaksa tinggal di rumah berhari-hari. Yang biasa minta orang kerjakan, sekarang terpikir untuk melakukannya sendiri .

Seberapa jauh kita bertahan untuk jenis ujian ini? Saat Ramadhan mendekat, jangan kan terpikir tunjangan hari raya, pegawai bergaji tetap pun terancam pengurangan take-home-pay. Saat duit sudah menipis, teman menjauh, sanak saudara terpisahkan, lalu apa yang tersisa?

Endurance dan strategi yang menghemat energi. Siapkan mental dan aktivasi afirmasi positif buat diri sendiri. Tak perlu urus orang lain punya pola pikir, kita bertarung dulu dengan diri sendiri. Mengalahkan aneka raksasa keserakahan dan kepelitan untuk berbagi.















Helloween 2013



Buat WIsnu, Akira dan Andhika, kegembiraan Helloween terutama adalah mereka bisa memakai kostum seram dan mendapatkan banyak sekali permen!

Naaah, urusannya kostum yang rada ribet. 2 minggu sebelum hari- H mereka sudah pada ribut menentukan mau pakai kostum apa. Akira menyatakan mau pakai kostum tukang sulap, Andhika juga demikian. WIsnu kelihatannya sudah yakin untuk mengenakan kostum Jack the ripper.

Kebetulan perlengkapan untuk Wisnu ada dijual di Ace, sehingga tinggal mencari tongkat. Akira dan Andhika ngotot minta dibelikan perlengkapan sulap.

jubah dan topeng Wisnu kebetulan terbeli di Ace Hardware, hihi cukup menyeramkan untuk ukuran anak-anak. 


Andhika tidak mau terlihat seram katanya, meski acara ini bertema Helloween dan peserta lainnnya berlomba-lomba agar tampak menyeramkan. Barangkali kriteria hantu bajak laut cukup seram di konsepnya, ahahhah...






Buat mereka, Helloween adalah kegembiraan mendapatkan kembang gula dan kue-kue yang sangat banyak sambil berlari-larian bersama-sama.  Teriakan " trick or treat" menjadi sesuatu mantra untuk mendapatkan kemewahan kanak-kanak akan kembang gula aneka warna.

Mungkin pelajarannya bagi orang dewasa adalah, bahagia itu sesederhana menerima permen dengan penuh kebahagiaan. 

Monday, October 17, 2016

Words are just like toothpaste


You will remember this plate of toothpaste for the rest of your life. 
Your words have the power of life or death. 
just see just how much weight your words carry. 

You are going to have the opportunity to use your words to hurt, demean, slander and wound others.
You are also going to have the opportunity to use your words to heal, encourage, inspire and love others. 

You will occasionally make the wrong choice;
Just like this toothpaste, once the words leave your mouth, 
you can't take them back.

When others are misusing their words, guard your words.
Make the choice every morning that life-giving words will come out of your mouth.

Decide tonight that you are going to be a life-giver.
Be known for your gentleness and compassion. 
Use your life to give life to a world that so desperately needs it. 


You will never, ever regret choosing kindness ... 


Hanya tentang rumah



Rumah yang berdiri sejak tahun 1967 memang wajar jika kemudian menjadi lapuk kayu-kayu bagian atapnya. Semua benda akan memiliki masa pakai dan tiba di masa rusak atau hancur.  Lihat saja beberapa bagian dari rumah ini, disaat penghuninya masih berada di dalamnya, kondisi seperti ini bukan perlu penanganan dikarenakan unsur estetika namun unsur keamanannya,



Gambar 1 . Atap ruang tamu




Bukan suatu kesalahan jika yang menghuni rumah kemudian harus memutuskan apa yang harus dilakukan . Pilihannya ada 2 : membiarkan rumah hancur dan dibangun kembali atau merenovasinya sehingga bisa tetap ditingagali, Kedua pilihan itu objektif, berdasarkan data dan budget yang tersedia. Sah, logis, wajar, masuk akal. 


Gambar 2 . Atap ruang Tamu


Bagaimana pun, suatu keputusan akan dipengaruhi unsur subyektifitas yaitu tergantung dari si pembuat keputusan berdasarkan motif pribadinya. Semua perhitungan untung rugi tetap akan dipengaruhi sang pembuat keputusan. Untung buat siapa, rugi buat siapa. Bukan hitung-hitungan matematika semata.



Meski kalau digambarkan ruang makan dan ruang tamu bukan suatu ruang yang menentukan bagian dari rumah. Bisa saja dipengaruhi pola pikir, selama bangunan masih bisa digunakan untuk tidur, tidak apa tidak makan di ruang makan yang sudah hampir runtuh atau tidak usah terima tamu sementara waktu karena tokh di luar rumah orang bisa bertemu kita dengan keadaan yang lebih mentereng ; di cafe, di restaurant, di tempat klien. Selama pakai baju rapi dan keren, tata rias yang beterima, mengendarai kendaraan mewah meski itu milik perusahaan, lupakan saja langit-langit rumah akan runtuh. 
Gambar 2 . Atap Ruang Makan 

Amazing. Masing-masing orang punya kemampuan mentoleransi frustasinya dengan hanya memfokuskan kepada tujuannya yang membawa keuntungan baginya,


Gambar 3. Ruang Tamu

Dan tiba di saat serpihan kayu berjatuhan, dan bahkan tiang penyangga tidak dapat dipastikan seberapa persen dapat menopang. Masih bisa berjalan di bawahnya, tidur nyenyak dan bermimpi besok akan baik-baik saja. 

Gambar 4 . ruang tamu


Memang rumah ini akibat seorang pesakitan yang pun akan diobati kemungkinan sembuhnya kecil. Barangkali beberapa orang lupa jasa rumah ini sebagai tempat lebih dari sekedar berteduh. Tempat ini pernah menjadi wadah kebersamaan yang disebut "keluarga". Benang merah antar pribadi yang mengikat meski ada perbedaan pendapat, sifat dan tabiat. 

Gambar 5. Tampak dalam atap 
Bahkan beberapa orang pun lupa bagaimana perjuangan untuk mendapatkan rumah ini, atau bahkan mempertahankannya. Jerih payah dalam membanting tulang atau menyisakan uang untuk membuat rumah ini berdiri seperti ini. 


Gambar 6  Tampak Atas atap


Tapi tidak ada yang dikatakan atau dilakukan si rumah. Karena tugasnya hanyalah menaungi siapapun yang tinggal di dalamnya. Jiwa dalam bangunan yang mendengar setiap bait doa, menyaksikan segala peristiwa yang terjadi di dalam setiap jengkal bagiannya.
Gambar 7 . Tampak Depan

Beberapa pertanyaan tetap akan tidak bisa dijawab secara adil untuk semua orang. Karena adil bukan berarti sama rata bagian yang diberikan. Karena keadilan hanyalah dimiliki oleh  Yang Maha Adil. Seberapapun kita menggugat keadilan, jawabannya hanyalah tingkat keihklasan. 


Gambar 8 . Rangka baru

Jika untuk merobohkan rumah itu lebih mudah untuk dijalankan karena sebuah ego , agar pihak lainnya tidak mendapatkan manfaat yang menurutnya bukan sepantasnya dinikmati...

Jika  hanya perlu sepenggal konstruksi tembok agar semuanya jelas batasnya , jelas hak masing-masing, jelas harta dan kepemilikan...

Bila kesiapan didefinisikan waktu dan biaya, bukan penerimaan hati dan timbang rasa ataupun cinta kasih terhadap suatu bagian yang pernah jadi suatu yang utuh....


Namun atap tak mungkin berdiri tanpa sangga dibawahnya , fondasi yang kokoh mengakar ke bumi.
Atap itu serupa payung yuridiksi pembagian tentang keduniawian, yang dianggap lebih kental dari darah.
Fondasi ke dalam bumi adalah sesuatu yang tetap ada di dalam hati masing-masing -- alasan melakukan apa pun yang dapat dibenarkan dan dibuat seolah masuk logika dan realita.

Tembok fisik tidak pernah akan sama dengan partisi kepentingan ataupun keuntungan ...
Selembar akta buatan manusia tidak akan bisa membatasi persaudaraan...


Bahwa hidup harus dijalani, dilakoni dengan segala pemaknaan.
bahwa segala nikmat Tuhan datang dalam bentuk yang kadang tak dipahami manusia, apalagi disyukuri,

bahwa dalam setiap doa yang dipanjatkan selalu dimulai dengan permohonan ampun kepada sang Pencipta
agar dihati kita selalu dapat memaafkan dan berlapang dada

karena sebaik-baiknya rumah adalah yang didalamnya ada rasa kasih sayang  dan penuh rasa syukur kepadaNya.








Thursday, May 19, 2016

Hadiah : sang penerima dan sang Pemberi

Saat "merasa" hati ikhlas, menerima, akan datang belokan tajam yang membuat kita terpelanting dan mempertanyakan diri sendiri : apa iya?

Hasil gambar untuk present

Ingat perkara hadiah. Hadiah, adalah sesuatu yang diberikan dan suka-suka sang pemberi hadiah. Penerima hadiah sepatutnya berterima kasih. Sudah bagus diberikan hadiah. Lucunya, saat penerima hadiah lainnya merasa lebih berhak mendapatkan hadiah tersebut, kenapa harus marah? Kenapa tidak kembalikan lagi kepada keputusan sang pemberi hadiah? Kembalikan saja jika perlu.

Namun beberapa orang memiliki anggapan berbeda tentang hadiah ini. Ada yang mengharapkan sejak lama untuk menerimanya. Barangkali bertahun-tahun membuat gambaran mental untuk datangnya hadiah ini yang akan begitu berkesan dalam hidupnya. Lalu kecewa begitu kenyataannya berbeda dengan angan-angannya.

Inilah sebenarnya seninya menjadi penerima hadiah. Mau memilih kecewa atau senang dengan hadiahnya. Tak perduli apapun rupa dan isi hadiahnya, maupun saat diberikannya.

Hadiah itu bisa dianggap anugerah atau musibah. Jika anugerah, seolah tidak ada syarat dan ketentuan yang dipermasalahkan, tidak ada lagi orang yang berhak selain diri kita untuk menerimanya. Sebaliknya jika hadiah dianggap sebagai musibah, mengubah perasaan ini kalau bisa dialihkan saja kepada orang lain. 

Lupa seringnya bahwa kita tidak punya kendali terhadap apa jenis hadiahnya. Masing-masing dari kita mendapat gulungan undian dengan nomer masing-masing yang sudah diperuntukkan. Yang dapat kita lakukan adalah menunggu, antri giliran menerimanya.

Bolehkah bernegosiasi atau menawar kadar hadiahnya? Silakan mencoba. Mencoba dengan berdoa dan bersikap yang dapat diterima sang pemberi hadiah selama kita berdiri dalam antrian. Berdirilah dengan sikap yang menyenangkan, tidak menginjak kaki orang yang berada di belakang kita atau menyumpahi orang yang di depan kita, atau mencemoh orang-orang lain yang baru saja menerima hadiahnya dan membuka hadiahnya di hadapan kita.

Mengapa? Karena kita tidak berhak menghakimi para penerima hadiah. Sebagai sesama penerima hadiah dilarang saling membully. Posisi kita semua sama, hanya sedang mendapatkan giliran yang berbeda.

Ada salah satu pihak yang dipercaya sebagai distributor hadiah. Ingat, mereka pun hanya menjalankan apa yang mereka dapat jalankan. Jika mereka tidak melakukan seperti yang seharusnya, atau merugikan kita, mengapa kita merasa berhak menghakiminya? Sang pemberi hadiah Maha Mengetahui apa yang terjadi dan sudah memiliki alat ukur untuk mengukur KPI mereka. Serahkan saja pada ahlinya. Sekali lagi, terima saja, wong peran kita sebagai penerima hadiah. Titik. 

Masih berani menghujat sang Pemberi hadiah?  Sungguh?





Wednesday, December 09, 2015

Chances are ...

Saya dinasehati bahwa rasa itu adalah untuk dikenali dan ditaklukkan. Rasa adalah yang membuat diri kita penuh perlekatan. Maka kenalilah rasa apapun yang datang, Bedakan, pastikan rasa itu memang rasa nan hakiki.

Lalu apa nama rasa ini,?  Setelah sekian tahun wujudmu tidak lagi membekas, rasa perlekatan ini sungguh semakin saya cari. Mungkin ini adalah pelarian dari segala keresahan dan kebuntuan pemahaman saya tentang diri sendiri.

Betapa muluk-muluknya membayangkan ada orang yang lebih memahami diri kita dibanding diri kita sendiri. Lebih dari sekedar kaca spion yang bisa memberikan gambaran bahaya yang akan datang/ Lebih dari sekedar lampu yang memberikan penerangan dalam kegelapan. Lebih dari pengeras suara saat suara dalam hati pun tidak bisa kau teriakkan.

Setelah semuanya pernah dilalui, apa yang tersisa selain dirimu sendiri dan kenangan tentang tasa itu. Juga ada pertanyaan yang tertinggal apakah rasa ini menetap untuk menemani ? Apakah  menjadi abadi, tak terkikis oleh guliran waktu. ?

Jalan yang gelap di depan masih akan ada. Setidaknya pada saat saya menengok ke belakang, saya tahu jauh di sana ada jalan yang pernah saya lalui tanpa merasa sendirian. Cukup itu saja yang menjadi bekal keberanian mencari terang di depan sana.

Pun jalan yang saya tapaki ini terlanjur dianggap berbelok ke arah yang tidak seharusnya, setidaknya saya memiliki keberanian mencari bukti kebenarannya  hanya dengan menyelesaikan perjalanan ini.

Setidaknya saya tahu para supporter tidak pernah ikut dalam track.. Apapun yang mereka teriakkan semata-mata berdasarkan pemahaman mereka apa yang seharusnya saya lakukan. Tapi mereka tidak pernah berlari bersama saya, atau menempuh jalan ini sebelumnya untuk berhak memutuskan apa yang harus saya lakukan.

Sementara ini saya kuatkan tali sepatu saya, mengatur nafas yang sudah tersengal dan mempertahankan stamina alih-alih lutut yang gemetar dan keringat yang membanjir. Penglihatan saya harus tetap jelas. Kaki harus tetap menapak. Pff-pff-pff.

.






Sunday, March 22, 2015

Start Redesigning Life


Change should begin somewhere. And I chose to begin now.
If you ask me what I want to change? I thought what I always wanted is to change my life.  Then I found out that there was nothing really wrong about my life. Let me count my blessing- not to brag about: family.

Happy family in my definition is we care about each other. We might be very busy, but we take time to spend time together. We have little argument sometimes, but we talk it over with respect.
We depend on one another, that what makes us connected.

I simply love to sit beside Sandy while he is driving. He will let me fall asleep in the car. I will just trust him to choose the route to the destination.

At home, I will let Sandy have his own good time fallen asleep in the couch while watching TV or in the kid's bedroom while the kids are doing their homework. I do little help with the kids study whenever I can.

Family also include my 85 year old dad.  I am so proud of having a loving, supporting and tolerant dad like him. He is really inspiring elder generation product who eats right and takes charge of his own life to be happy. He is an independent and humble man ; he rides a bike, takes public transportation, goes shopping in traditional market.


Then I have my job that I like, friend I love to work with, clients who confide in me and my company. I lead a busy life, tight schedule, high expectation from my boss. These things make me feel good.

I still have my homework.
one, is the house separation. Second, the land to turn into investment instead of expenses. Third, Sandy's wishes to continue his studies. Fourth, my own plan to set up my own activities.

aside from that? Just consider not in my priority.
Someone's problem is none of my business. Someone's unfulfilled responsibilities are not my concern.

Focus on important things,
one step at a time.






Friday, October 31, 2014

Pelajaran dari sepeda BMX warna merah

" aku mau sepeda bmx warna merah"
" iya, bagus ya, warnanya merah terang"
"iya, makanya aku mau. babe beli ya buat aku"
" iya, nanti ya. eh, selain warna merah, ada yang warna lain nggak yang bagus?"
" nggak"
" merahnya yang seperti apa?"
" itu tuh, merah tua yang itu"

Dan saya, sibuk menunjuk sepeda yang dimaksud. Saya sibuk berceloteh, dan ia menanggapi sepenuh hati. Tak ada penolakan.

Dan, setiap kali kami melewati pasar rumput, dari ujung toko sepeda sampai ujung lagi, saya selalu mengulang celotehan keinginan saya untuk membeli sepeda. Tidak ada penolakan. Tidak pernah ada.  Dan untuk kesekian kalinya kami hanya melintas melewati jajaran toko sepeda itu.

Sepeda BMX merah itu sampai sekarang pun tidak pernah jadi milik saya. Tapi saya tidak pernah merasa dikecewakan.

Sampai hari ini, kenangan melintasi pasar rumput itu tidak pernah lepas dari ingatan saya. Rasa menggebu untuk memiliki sepeda BMX warna merah itu tidak menjadikan saya galau atau bersedih.
Saya tidak tahu kenapa, namun saya paham bahwa sepeda itu akan tetap terpajang saja di toko itu.

Saya tidak perlu bertanya, dan ia tidak perlu menjelaskan.
Jawaban ayah saya juga bukan jawaban luar biasa. Sama sekali tidak lebay.

Saya tahu sepeda itu tidak akan jadi milik saya.
Saya tahu saya, dan saya  tidak perlu bersedih .
Saya tidak perlu merengek.
Saya merasa ia cukup paham apa yang saya mau.
Cukup bagi saya untuk ayah saya menyetujui bahwa sepeda BMX itu sungguh sepeda istimewa.

Terima kasih, 'beh untuk semua kata-kata penyejuk.
Melalui kesulitan apa pun  dengan hati yang sejuk sungguh jauh lebih penting.




Friday, October 10, 2014

May 27 to remember






Suatu hari…saya menjadi orang yang paling ber syukur..

Membaca salah satu postingan blog teman, membuat saya keras berfikir : Segitu kuatnya kah dia menghadapi masalah??? Jawabannya : IYA!

Baru sekali ini saya membaca postingan blog dan menitikkan air mata, bukan  Cuma karena kesedihan tapi juga rasa haru dan bangga..dan tiba – tiba baru kali ini saya merasa saya menjadi orang yang lebih beruntung.

Membacanya sekali lagi membuat saya menilik ke belakang: Betapa saya “Sebetulnya” telah dianugrahi banyak keberuntungan dibalik “RASA” susah saya.  Selama ini, Saya adalah orang yang paling menentang keras sifat Pasrah dalam berusaha. Buat saya setiap masalah ada jalan keluarnya kalau kita mau berusaha. Prinsip sakleg begitu saya empatikan ke diri saya sampai sekarang. Saya orang paling ngedumel kalau lihat orang lain gagal trus pasrah dan ini yang paling menyebalkan “ Belum rejekinya ngkali..!!” Betapa menyedihkan! Kalimat tersebut untuk saya..

Saya tidak pernah merasa kasian dan bersedih melihat orang lain gagal, melihat diri gagal apalagi! “ Jika suatu hari kau gagal, jangan pernah merasa jatuh. Jika itu terjadi bangun dan berlari jangan pernah lagi merangkak, berjalan atau melompat, tapi berlari secepat kamu bisa, dan ketika kamu lelah, berhentilah ditempat dimana posisimu sudah terasa nyaman..see..?? Buat saya kerja keras dan banyak berdoa sebetulnya itulah esensi manusia hidup di bumi.Tidak ada yang tidak mungkin: begitu kata saya. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita bukan Cuma karena nasib, tapi karena usaha kita juga. Mungkin Tuhan sudah mengggariskannya tapi bisa kita ukur garis tersebut panjang-pendeknya kalau kita mau bernego dengan Tuhan dalam urusan merubah nasib.

Lagi, ketika membaca Blog teman saya…saya mulai sedikit demi sedikit berkompromi soal empati. Sebetulnya dalam hidup,  saya sudah banyak dilimpahi berkah yang mungkin orang lain tidak merasakannya. Saya  sudah lebih banyak menikmati kemudahan hidup dibanding enam tahun masa susah saya. Kalau selama ini saya sering ngedumel dan memaki karena rasanya jalan hidup tidak sesuai yang saya inginkan. Banyak keinginan hati yang tidak terturuti.

Selebihnya setelah saya membaca blog : saya Cuma bersyukur….
Saya disini masih bisa menikmati hidup lebih mudah dibanding teman saya yang tinggal ribuan kilo jauhnya dari Indonesia, mengurus rumahtangga seorang diri, jauh dari keluarga, menikmati makanan dengan hemat, melahirkan sendiri tanpa didampingi orangtua dan sahabat. Mengalami masa susah dengan ortu dan keluarga....Bandingkan dengan saya..??

Yang terus-terusan merasa orang paling tertimpa kesusahan. Padahal..:Meski tidak selalu dapat membeli, tapi saya masih bisa jalan-jalan santai ke Mall,   Menikmati hidangan restaurant enak yang dulu sering saya nikmati, menyekolahkan anak di tempat bergengsi, punya kakak ipar yang selalu berbaik hati membagi rejeki, punya suami dan anak meski kadang menyebalkan tapi sudah melimpahkan berjuta-juta cinta dan sayang yang luar biasa kepada saya... Ppuihh…sebetulnya….

Pagi ini sambil menyruput teh tawar hangat yang mengaliri kehangatannya ke seluruh tubuh, sehangat hati saya pada saat memposting blog ini...saya berucap syukur...

Alhamdulillah....


Dedicated  to Kenny...”Wish you all the best for the coming year my dear..”


Puzzle here , and there













Bang. Dead end. That's it,this is it,  that's what I thought.
But then, many times, life turns around.

but, who knows what comes next?
 
I would not brag myself for always knowing what to do.  It is just that I the only way that crossed my mind is that, Hey,  who knows I could try. Not to be considered a better person. Not because I was enlightened. Not because of a person. Not because of a religious reason.

I am doing it for myself.

I dont live by people's expectation because I can not afford that. Even my own mother failed me.

The idea of how much my mother loves me scares me so much. I mean, I never understand how love could turn into so much torment. If she was meant to love an ordinary daughter like me, why would she have treated me so special that I had to be different than the other girls- tougher, independent, mature but at the same time down to earth, respectful, and obedient. I do not know what she thought of me in the end. 

What I knew I am the most stubborn daughter she ever had. I took my best chances to survive. I even had to struggle to be myself when the others wont allow me to.

Tell me about planning. I did some planning A, B or even C. What turned up - surprise!
So I set my mind to just simply survive and endure and endure.












Wednesday, April 30, 2014

The box










Banyak orang menikah dengan mempercayai mitos bahwa pernikahan adalah sebuah kotak yang indah dengan segala yang mereka dambakan : kebersamaan, kedekatan, pertemanan, dll.

kenyataannya adalah pernikahan merupakan awal dari kotak yang kosong. Kita harus mengisinya sebelum bisa mengambil isinya. Tidak ada cinta dalam pernikahan. Cinta berada dalam diri manusia. manusianya lah yang meletakkan cinta ke dalam kotak pernikahan.Tiada romantisme dalam pernikahan. Kita harus menyuntikkan kemesraan dalam pernikahan.

Setiap pasutri harus belajar seni dan bentuk kebiasaan memberi, mencintai, melayani, memuji pasangannya untuk mengisi kotak pernikahan.Jika kita mengambil lebih banyak dari yang kita simpan, kotak pernikahan akan kosong.

Mungkin anda pernah mendengar bahwa ada orang yang menyatakan " Setelah bertahun-tahun menikah saya begitu kecewa menerima kenyataan bahwa pasangan saya sama sekali tidak memahami saya". Oo. Ketika saya tanya apa yang teman saya ini telah lakukan agar dipahami pasangannya, ia menyatakan " Ya, tanpa harus saya melakukan apa-apa harusnya dia tahu dong, paham dong mau saya apa".

Pernikahan saya juga baru menginjak di usia yang ke-12. Bukan hal yang mudah untuk menyatakan bahwa kami berupaya membuat pernikahan ini berhasil. Apapun pasalnya, ada masa-masa saat saya berperan jadi "Ratu Sejagad" yang murka dan membangun benteng pertempuran. Di kala itu, saya juga yang harus menghancurkan benteng tempur  yang saya bangun, dan mengakui kesalahan saya.
Ada juga saatnya pasangan saya teracuni oleh ego kelaki-lakiannya dan membangun parit pemisah komunikasi. Begitu besar potensi untuk masing-masing dari kami untuk mau menang sendiri, merasa benar sendiri, menuding, menyalahkan, memojokkan. Sungguh perasaan nikmat tak terhingga untuk dikendalikan amarah dan dibutakan oleh keinginan untuk membuktikan kehebatan diri. Sejauh ini, kami beringsut di pojok pertarungan, meski tak ada wasit.

Obat paling mujarab adalah tatapan polos anak-anak yang mengingatkan kami untuk mengisi kembali kotak pernikahan itu bukan hanya dengan cinta nafsu sepasang perempuan dan lelaki, namun doa untuk keberlangsungan pernikahan.

Terima kasih, nak, membuat Ibu dan Aji tetap di jalur ini,  Anugrah Tuhan yang tak tertandingi sepanjang hidup kami.











To be hated





Hate me for a reason.
otherwise it's waste of season.

tell me in the eye,
show me your rage

I do things most people wont  do
I say things that make people shut their ears

I came in your life to teach you a lesson
that life is not full of candy bars or beds of roses

Take your blade and make it sharp

Superhero once more




I said I quit.
Quit pretending to be a super hero.
they said the wardrobe just perfectly fits in me.
yeah yeah yeah.

I grow out of patience.
They call me "mad".
I am impatiently mad.
o.o.

Superhero world will make you wonder.
even we dont reside in a real world.
What we do what you cant see.
but, for real.







Wednesday, January 08, 2014

Silence to kill



Just say,  whatever y'all shall say
Do whatever  y'all feel like doing
Think the way y'all want to think.

I got nothing to say, prove nor defend
but my silence shall not be broken
only for the sake of saying something

my scars are widely open,
my heart now I can no longer patch
I just have the pain and time to endure

I am accepting my fear of letting go
while taking a chance to lose control
with a book and a cup of coffee to keep


Friday, January 03, 2014

one word to find a meaning

During office annual meeting last week, a colleague introduced an idea of finding a place in solitude to find a word for ourselves to be our purpose in life. He suggested that we find a quite place mount bromo and start praying before a dialog with ourselves. after awhile, you will take "a word" as the reason to live.

Well. I dont have the luxury of having some time alone : I got work to do,  a boss with expectation to manage , promises to my kids to make up, husband to liase with, an 83 years old dad to wait on, 3 maids to supervise, nephews and nieces to entertain, neighbors to pay a visit, brothers to tap on their shoulders, some wacko friends to refrain from suicide.  Not to mention emails to reply, social media community to comment back, bbm and whattsapp to follow. I am just too busy to think about myself.

It's not that I didnt try to escape. I did booked a hotel room, unfortunately the hotel is fully booked for holiday season. Perfect.
Then I thought , well, the only time and place to be left alone for me  is at the computer desk late at nite when all those frenzies stopped. That's when I can access my blog, alone.surprisingly, the word does not come so easily.

I almost gave up on the pursue of the word. Then I overheard a colleague played a song from her i tune so loud that I could hear it even she was using the earplugs. It was Matt Duncan's song : Beacon. So I searched in the internet about the lyrics. Most songs that I like is because I like the lyrics. I dont care much about the beat, but lyrics could just stuck in my mind and the song follows.

Listen up :

Hold your head up, you're a beacon
Don't let them think you've come that far
You were always standing in the spotlight, baby
We know who you are


It's getting cold out on that big lake
And the water's painted blue
Don't let the skyline fool you, baby
You know what to do...