Sunday, January 01, 2012

Bagus ya, kembang apinya?

ni malam ke-5 di lantai 7 unit rawat  Rumah Sakit Umum Negeri ini. Dibandingkan penderitaan terkatung-katung menunggu di Unit Gawat Darurat yang setiap detik dikelilingi kejutan pasien kritis, koma sampai titik; bersempit-sempitan satu tempat tidur dengan suami di unit kelas paling bawah seolah merupakan kenikmatan yang terbawa karena suatu kesengsaraan.

Teman saya --yang sebenarnya nota bene rada edan untuk berteman dengan saya-- mengatakan hanya orang edan yang mau dirawat di RS ini. Sebenarnya bukan rumah sakitnya yang edan, tapi memang keedanan bisa ditimbulkan oleh orang-orang edan : apa pun profesi mereka. Keedannan itu dimulai dengan ide memakai fasilitas layanan kesehatan dari si kartu kuning milik negeri ini, dikarenakan kami memang pengabdi negeri ini, dan masih merasa perlu belajar percaya kepada abdi negeri ini untuk melayani kami.

Semalam adalah malam tahun baru. Gelagat saya adalah sibuk membuat resolusi demi keriaan tahun yang baru. Sejak pukul  21.00 sinar kembang api sudah terlihat di langit utara. Saya bergumam, " ternyata indah juga ya kembang api dari jauh" dan menerawang ke masa lalu menyaksikan Hanabi. Suami saya, si pasien yang tetap tak merasa sakit, menimpali " bedalah keindahannya". Saya mendekat ke kaca. Melihat jauh --karena semata-mata melihat dekat perlu kacamata sekarang, dan menoleh kepada mantan pacar saya itu , " ah, tetap indah kok". Keukeuh.

Dentuman kembang api hanya sayup-sayup. Yang terdengar jelas adalah ungkapan kekaguman seorang remaja penderita leukimia di tempat tidur seberang. Tangannya yang mengecil tinggal kulit berbalut tulang, memegangi HP nya untuk mengabadikan cahaya kembang api. Setiap ada kilatan yang menarik perhatiannya, ujarannya yang membuat dada saya sesak, " waaaaah... weeeeisss... ibu, ibu, sebelah sana". Mata ibunya berkaca-kaca, mata saya lebih-lebih lagi. Sesekali si ibu membelai kepala anak remajanya itu yang sudah tak berambut pasca kemoterapi. Hati saya serasa ditusuk-tusuk. Kaki saya mulai gemetar.

Tempat tidur di sebelah, dihuni pasien kanker separuh badan. Sepanjang hari si pasien hanya teriak-teriak tak karuan penuh halusinasi. " Agus, agus, kau lepas kabelnya itu ha? kau mau bikin mesin itu mati ? kurang ajar kau" . Sesaat kemudian hening, dan berganti " ulaaan, ulaaaan, dimana kau? angkat dulu kakiku ini. ulaaan". Terdengar smar-samar istrinya berusaha menenangkan, tapi malah dihina, " Diam kau. Tahu apa kau. Aku ini capek, capek pikiran, capek perasaan. cabut semua ini, cabut, cabut kataku. Biar aku mati saja, apa susahnya mati, tinggal dikubur. huuuuu...huuu... maammaaa.... maaamaaaa.." .

Aku berpandangan dengan orang diseblahku ini, yang pernah kupacari 9 tahun dan sekarang menikahinya 8 tahun sudah. Paling tidak, kali ini matanya menyetujuiku untuk lebih baik mengomentari kembang api tadi. Dan ia beringsut mencoba duduk dan melihat ke luar jendela. Aku melontarkan pertanyaan yang sama, " Bagus ya, kembang apinya?". Tatapan matanya sekarang ada kerlipnya -- kilatan blitznya yang membuat hatiku menetap selama ini.

Di sisi lainnya mulailah erangan pasien dari tempat tidur ujung kanan , yang terbangun karena biusnya sudah berkurang, " AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAArrhhh. haaaaaaaaaaaaaaaaaaa".

Aku menjauhi jendela. Melepas sendalku, beringsut ke tempat tidur. Kususupkan kepalaku ke lengannya disela-sela kabel infus. Semua suara tadi tetap terdengar. Aku memejamkan mata berusaha tidur, seraya bertanya lagi , " Bagus ya, kembang apinya?".

No comments: