Friday, December 29, 2006

Menutup pintu 2006

Forest Gum yang menganalogikan hidup layaknya sebuah kotak coklat : You'll never know what you'll get. Ibu harus angkat topi dan setuju.

Siapa yang sangka hidup bisa lebih pahit dan getir dari jamu temu lawak? Siapa yang pernah membayangkan ternyata air mata itu bisa mengucur dengan deras berkesinambungan dan tak perduli musim seperti sumber mata air zam-zam? Tidak seorangpun juga yang memberi kode bahwa hati ini bisa perih tak terobati karena sumber penyakitnya pun tidak kunjung diketemukan.

Tapi ternyata hidup juga sudah punya tabiat tersendiri. Macam apa? Ada Yin, ada Yang. Ada panas, ada hujan. Ada marah, ada juga dimarahi (eeeh...salah, maksudnya ada juga maaf). Ada sedih, ada gembira. Ada cinta, ada gedek (tapi kalo gedek melulu sama orang tertentu apa yang salah ya? barangkali orang tsb cinta berat sama ibu). Ada masanya dompet kosong, ada masanya rejeki datang bertubi-tubi (kapan tuh yaaa? looking forward nih!)

2006 yang akan kami tinggalkan...adalah tahun disaat kami benar-benar harus bertempur lahir batin. Kaledoskop mulai neeh....eng-ing-eng...........

Januari,
Kami jalan-jalan ke Urasa menjemput salju menempuh perjalanan 5 jam dengan berganti-ganti naik kereta. Makan di restoran Indonesia di Shinjuku dengan Ide Sensei dan istrinya. Ada juga acara makan-makan di apato kita: pertemuan Persatuan Pelajar Indonesia Yokohama. Bulan ini juga Akira waktu itu baru belajar mengangkat badannya. Wisnu waktu itu sedang "menguji" kesabaran kami dengan segala macam eksplorasinya; dari nggak mau pake pampers or baju, buka2 kulkas dan mengeluarkan isinya, minum air cucian piring, huehhhh...THANK GOD IT'S OVER !!! (eit...tinggal giliran Akira n Andhika deh)

Februari,
Kei dan Hiroko berkunjung ke apato kami dan membawa segala macam perlengkapan untuk merayakan Setsubun Festival di rumah kami. Bulan ini juga pertama kalinya Akira bisa duduk. Di akhir bulan, kami sekeluarga terserang cacar air dan para teman-teman berbaik hati mengantarkan makanan dan membantu membersihkan rumah.

Maret,
Hiks...ini bulan bersejarah dalam hidup kami. Aji akhirnya diwisuda, dan kami pulang ke Jakarta. Bulan ini juga Akira sudah bisa berdiri.
Sedih rasanya memang harus meninggalkan Jepang dan para teman yang baik hati, tapi....namanya juga kami orang Indonesia masak iya gak mau balik ke tanah air?

April,
Adjustment tegangan tinggi untuk kami semua. Beratnya untuk Aji karena belum ditempatkan dimana-mana dan belum ada pekerjaan; sedangkan yang namanya Aji itu mana bisa begitu-- datang ke kantor, bengong2 gak ada kerjaan. Kami kembali tinggal serumah dengan kembaran Aji beserta suami dan anaknya plus baby sitter and pembantunya. Wisnu dalam tahap penyesuaian diri dengan Alexa, sepupunya, yang main bersama-lah, bertengkar-lah, dll.

Mei,
Akira pertama kalinya sakit panas selama seminggu. Selama ini mah yang namanya Akira mah tahan segala cuaca. Tapi ya namanya juga baru 3 bulan di Indonesia, berkenalanlah Akira dengan segala macam bakteri dan virus setempat. Kami sekeluarga juga diare hampir sebulan penuh.

Juni,
Bulan penuh rahmat: Andhika lahir dan Akira ulang tahun ke-1 tahun. Semua saudara datang berkunjung...just like the old days waktu Wisnu ultah pertama kali.

Juli,
Matahari semakin bersinar; Pas tanggal 24 Juli ada 2 kejadian sekaligus :Aji dapet promosi jabatan, ibu mulai menjadi karyawan full time--melalui sebuah perjuangan negoisasi.

Agustus,
Akira sakit panas lagi. Kali ini benar-benar heboh, sampai 3 malam berturut-turut kami larikan Akira ke UGD. Untungnya bukan jenis penyakit yang gawat. Bulan ini Wisnu ultah ke-3 tahun dan kita mengadakan syukuran kecil-kecilan serba Thomas.

September,
Tak ada september ceria...malah kejadian-kejadian yang bikin nyolot. Keadaan yang tidak memungkinkan, suasana hati yang kurang kondusif, cara pandang kami yang berbeda dalam satu rumah dengan beberapa kepala. Sungguh berat memang kalau menjalani sesuatu karena terpaksa. Semoga hati yang terluka pun bisa sembuh oleh waktu.

Oktober,
Akira lancar berjalan tapi sudah bisa pup di kloset! Aji dapat promosi jabatan. Ibu dapat duit tambahan dari ngajar-ngajar. Merek susu yang dikonsumsi anak-anak jadinya bisa sedikit naik peringkat: dari SGM ke kelas susu bendera lahhh...

November,
Di bulan inilah akhirnya ibu menyerahkan diri ikut program pemerintah; KB. Lah...selama ini mah emang kami nurut aja, mau dikasih anak 3. Tapi sudah cukuplah sekarang, tinggal bertempur mendidik mereka. Andhika sudah mulai telungkup dan berguling.

Desember,
Bak tamparan di muka, ternyata Akira selama ini tidak dalam kepengasuhan baby sitter yang penuh cinta. Sulit memang untuk diterima akal, tapi paling tidak ibu sudah berusaha memberikan yang terbaik. Things happen, you know. Memang ada juga kecewa: udah bayar uang tiket pesawat, gak jadi berangkat ke Bali. Tapi ternyata langit rahmat itu sangat luas...ada aja kok yang bisa membahagiakan: nginep gratis di hotel, bonus akhir tahun, hang out sama temen-temen, liburan sama anak-anak...

Untuk segala yang terjadi di 2006 kami panjatkan ucapan syukur atas semua berkah dan perlindungan dari Yang Kuasa. Seandainya ada saat-saat kami mengeluh, meratap atau merasa terbebani dengan segala rintangan ataupun cobaan mungkin adalah cermin diri yang masih belajar tentang kehidupan.

2007 yang datang kini, kami sambut dengan harapan dan doa dalam hati.
Menjalani kehidupan adalah suatu tugas mulia. Sesungguhnya jika kami dikhianati, dicurangi, ditusuk dari belakang, dicaci-maki, dihujat...seharusnya kami menyadari tugas kami adalah memberikan kedamaian kepada para pencari damai. Jika ada masa kami merasa gembira dan suka hati, sesungguhnya itu juga bentuk cobaan akan kekuatan diri: apakah kami bersyukur, apakah kami bisa berbagi, apakah kami ingat hal-hal yang lebih abadi.

Selamat Tahun Baru! Semoga kita tetap dapat berupaya yang terbaik. Mudah-mudahan kita juga selalu mencoba memiliki hati yang lapang dan bersih.

1 comment:

Niken said...

Met tahun baru ya! Semoga tahun ini kita juga diberi kesehatan, rejeki dan diberi kesabaran yang plus plus ya!